Nasib Ilmuwan Indonesia
30 Jan 2010 4 Komentar
Sedikit diketahui bahwa putra-putri Indonesia telah banyak mengukir
prestasi di kancah dunia internasional. Mereka seolah-oleh hilang di
telan bumi dan itu pun di dukung dengan kurangnya perhatian kita
bersama, dalam hal ini khususnya pemerintah.
Putra-putri terbaik bangsa itu harus puas mengabdikan diri mereka di
negara orang. Padahal jika ditanyai satu persatu maka mereka akan
sepakat menjawab bahwa mereka sangat ingin kembali ke tanah air. Mereka
sangat berharap bahwa mereka bisa memberikan konstribusi bagi bangsa
Indonesia. Memberikan prestasi terbaik di dalam negeri sendiri sebagai
upaya meningkatkan nama baik Indonesia di muka dunia internasional.
Tetapi apa yang terjadi? Cita-cita dan keinginan mereka itu harus pupus
di tengah jalan, lantaran mereka sendiri telah berulang kali dikecewakan
oleh bangsanya sendiri. Bila di negeri orang (Amerika, Jerman, Swedia,
Jepang, Singapura, dll) mereka mendapatkan perhatian dan pekerjaan yang
sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, maka di tanah air mereka harus
menelan pil kekecewaan karena “tidak dipakai” alias apa yang telah
menjadi prestasi mereka sebelumnya (berkelas dunia) tidak mendapatkan
perhatian dan dukungan yang semestinya. Meskipun mereka rela melamar
bahkan hingga ada yang pernah melamar di 50 perusahaan beragam. Atau
meski harus merelakan bahwa jika di negeri orang mereka mendapatkan
fasilitas dan penghasilan yang layak namun memilih untuk kembali ke
tanah air walau dengan banyaknya kekurangan. Tetapi itu tidak membuat
para penguasa, elit politik dan pemilik modal menjadi perhatian dan
mendukung mereka sepenuhnya. Bahkan berdasarkan pengalaman yang ada maka
orang-orang pintar itu harus terpaksa meninggalkan tanah pertiwi karena
senantiasa dicurigai, dianggap tidak penting dan memang mereka tidak
diberikan atau memiliki pekerjaan.
Dari beberapa alasan diatas itulah maka akhirnya mereka mengaku masih
betah mengabdi di mancanegara. Mereka belum berniat untuk berkiprah di
tanah air, karena mereka trauma ilmu yang mereka raih dengan susah payah
itu tidak mendapatkan penghargaan yang selayaknya. Selain itu, sudah
tidak bisa disangkal lagi, mutu pendidikan di Indonesia banyak
dikeluhkan berbagai kalangan. Dari tahun ke tahun selalu fasilitas
sarana dan pendanaan yang menjadi faktor kendala utama. Dan ini tentu
saja berakibat mutu lulusannya dipertanyakan. Kita mungkin sudah
ketinggalan jauh di tingkat regional Asia Tenggara, terutama dari negara
Singapura atau Malaysia.
Di tengah keterpurukan soal mutu dunia pendidikan kita, ternyata
tidaklah sama dengan tingkat intelegensi manusia Indonesianya. Sejumlah
orang Indonesia ternyata banyak yang berotak encer. Mereka bekerja di
luar negeri seperti di Eropa, Amerika dan Jepang. Bahkan berhasil
menduduki posisi penting.
Sebagai motivasi, marilah kita menilik beberapa prestasi yang telah
diukir oleh putra-putri terbaik bangsa Indonesia di kancah
Internasional. Diantaranya adalah sebagai berikut :
1. DR. Andreas Raharso (Kepala Risets Global Hey Group)
Pria berusia 44 tahun itu saat ini menduduki pimpinan atau CEO pada
sebuah lembaga riset global Hay Group yang berkantor di Singapura. Hay
Group sendiri mempunyai jaringan di hampir belahan dunia dan berkantor
pusat di Amerika. Klien dari Hay Group ini kebanyakan adalah para
pimpinan dunia seperti Amerika serikat, Perancis dan Inggris. Jabatan
yang diraih Andreas Raharso cukup fenomenal, karena merupakan
satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki posisi puncak. Selama
ini jabatan itu didominasi warga Amerika dan Eropa.
2. Prof. DR. Kent Sutanto
Barangkali gelar akademis yang diraih Kent Sutanto ini tentulah langka.
Pria kelahiran Surabaya 1951 silam itu meraih gelar doktor di Jepang.
Tidak tanggung-tanggung gelar doktor yang diraih Kent di negeri sakura
itu sebanyak empat gelar dari universitas yang bebeda. Saat ini Kent
Sutanto mengajar di Universitas Waseda, kampus almamaternya. Selain itu
Kent Sutanto juga sebagai dosen tamu di Universitas Venesia, Italia.
Karena otaknya yang cemerlang, pria asal Surabaya yang sudah 35 tahun
tinggal di Jepang itu mendapat kepercayaan pemerintah setempat duduk di
MITI, semacam Departemen dan Perindustrian Jepang.
3. Prof. Yow Pin Liem
Satu lagi orang Indonesia yang berhasil menduduki posisi penting adalah
Profesor Yow Pin Liem. Pria 49 tahun asal Cirebon, Jawa Barat itu adalah
pimpinan dan pendiri sebuah perusahaan riset Pro Thera Biologisc di
Rhode Island, Amerika Serikat. Di tempat riset Prof Yow ini sudah banyak
berkontribusi melakukan penelitian terutama masalah pemahaman seputar
molekul kanker dan anthrax.
4. Suhendra
Pria kelahiran Jakarta, 17 November 1975 itu, saat ini bekerja pada
Badan Peneliti Jerman, BAM di Berlin. Alumnus Universitas Diponegoro
Semarang itu berhasil bekerja sebagai peneliti di Jerman setelah meraih
gelar doktor di sebuah univeritas teknik di Jerman. Uniknya, Suhendra
yang ahli di bidang metal eksplosif itu membiayai kuliahnya dengan
bekerja serabutan dan mengumpulkan botol bekas.
Prestasi dan kegigihan orang-orang Indonesia ini memang tidak kalah
bahkan setara dengan ilmuwan dunia. Walau kondisi pendidikan di tanah
air dirasa masih belum kondusif mereka mampu menembus ruang dan waktu
untuk berkiprah cemerlang di tingkat internasional. Kita patut bangga
dengan mereka.
Sebaliknya beberapa contoh prestasi yang sangat tidak membanggakan dari
putra-putri bangsa Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Merosotnya akhlak dan prilaku bangsa Indonesia.
2. Tidak percaya diri pada kemampuan yang dimiliki.
3. Tidak menghargai segala kekayaan, kemampuan dan potensi yang dimiliki
oleh bangsa sendiri.
4. Berfokus hanya pada sektor ekonomi saja hingga melupakan
bidang-bidang lain yang tidak kalah pentingnya, khususnya bidang agama,
pendidikan dan penelitian.
5. Masih banyak yang berkecimpung hanya pada kekuasaan saja sehingga
rebutan kekuasaan menjadi ajang yang paling bergengsi.
6. KKN yang tidak kunjung berkurang bahkan makin bertambah dan merata di
segala bidang dan strata sosial.
7. Hanya memikirkan kehidupan dalam masa jangka pendek dan tidak peduli
dengan yang akan dihadapi oleh anak cucu nanti.
8. Egois pribadi yang selalu memikirkan diri sendiri dan tidak berfikir
bahwa jika tanpa orang lain (orang miskin atau rakyat jelata) maka ia
tidak akan bisa berbuat apa-apa.
9. Mental pengemis yang masih dimiliki oleh sebagian besar masyarakat.
10. Kurang berfikir kreatif dan inovatif. Atau tidak memperhatikan
mereka yang memiliki kemampuan dalam berpikir kreatif dan inovatif.
11. Masih banyak yang berpikir untuk mencari pekerjaan bukan malah
menciptakan lapangan pekerjaan.
12. Terlalu banyak pemikiran yang bisa menambah masalah bagi bangsa, dan
bukan malah bersatu dalam memberikan solusi dan memecahkan permasalahan.
13. dll
Demikianlah hal-hal yang dapat membanggakan kita sebagai bangsa
Indonesia dan sebaliknya beberapa hal yang tetap saja menjadi ganjalan
karena hanya akan membuat bangsa ini makin terpuruk dan tidak bisa
menjadi sebuah bangsa yang besar. Bangsa yang bermartabat dan di segani
oleh dunia internasional.
Pesan bagi kita semua adalah “Cukupkanlah dengan segera segala bentuk
kelakuan yang tidak berfaedah” sebagai upaya dalam membangkitkan rasa
percaya diri karena kemajuan dan keberhasilan akan senantiasa menyertai.
Ayolah saudaraku, marilah kawanku, mari kita bangkit dari keterpurukan
dan maju dalam membangun tanah pertiwi. Mencapai kemajuan yang menjulang
ke langit sebagaimana yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa ini.
Sudah waktunya untuk kita memikirkan bangsa ini dengan jalan yang lebih
dewasa dan luas ruang lingkupnya. Janganlah meninggalkan atau meniadakan
yang satu demi membangun yang lain agar lebih maju, karena yang semacam
itu tentulah tidak normal dan kerdil. Sebaliknya bangunlah segala
sesuatunya itu secara bersamaan dan seimbang, sesuai dengan batas
kemampuan diri. Mari kita bersatu padu dalam mewujudkannya, karena
tentulah akan membawa manfaat yang luas bagi kehidupan.
Maju Bangsaku, Majulah Negeriku. Indonesia Raya.
Yogyakarta, 07 Desember 2009
Mashudi Antoro (Oedi`)

Agu 25, 2010 @ 02:09:42
saya sangat senang dan bangga dengan anak bangsa yang berprestasi di kancah internasional,oleh karenanya kepada penguasa,penguasa atas segala usaha,penguasa atas pendidikan,penguasa atas segala keputusan penting yang berkenaan hajat hidup orang banyak.berhentilah untuk angkuh dan sombong untuk menerima keadaan kita.kehebatan anak anak kita ,peluang peluang prestasi untuk anak didik kita,buang jauh jauh rasa gengsi memakai menggunakan karya produk kita sendiri.berhentilah merengngek rengek cari dibitor baru.mari gunakan ,manfaatkan potensi yang ada yang kita miliki.
Agu 25, 2010 @ 02:15:04
wahai yang yang punnya kuasa atas orang miskin atas orang pinggiran atas pengemis atas anak anak yang putus sekolah.atas janda janda yang nelangsa melihat anak yang kelaparan,yang bingung harus mengadu kemana.mari segera memberantas ketidak beresan, ketidak pecusan dalan mengurus persoalan bangsa ini, semampang di bulan yang penuh barokah ini kita bangkit dengan kekuatan kita sendiri.mari saudaraku.[
Agu 30, 2010 @ 06:13:28
mereka sj yg nggak mau mengabdi pada bangsa ini, kalau memang cinta pada negeri ini, punya jiwa nasionalisme dan patriotisme…. npa mesti ngajar di luar, bilang aja kalau mau cari materi yang lebih padahal ukuran gaji doktor di Indonesia terbilang sudah makamur (mungkin bagi kami yang tidak pelit ilmu)…..
mana pengabdiannya, klw memang mw memberi dan berbagi pasti mereka nyadar…
klw mereka punya nurani terhadap kondisi bangsa ini, mereka sharusnya ikut mengangkat negara ini dari keterpurukan lewat kemampuan mereka. Bukan justru meninggalkannya bgt sj… !!!!
apa yang mereka dapat selama ini, sedikit banyagnya berasal dari negara ini, langsung ataupun tidag langsung,,,..
“What have you given to your country? and never think, what has the country given to me?”